Selasa, 06 Mei 2008

Cerita dari Gn Mas Bubud


Seperti biasa hari libur memang jadi incaran para goweser tuk meniti trek yang baru sehingga anak2 KOMSEP yang kali ini diwakili oleh ( Om Budi, Om Thoni, Om Chairul, Om Aan, Om Hardi, Om Gaus, Om Alan dan Fajar (yang masih duduk manis di bangku SMA), dan Om Yitno (kuda hitam dari Rempoa) ) juga tidak kalah ambil bagian tuk menelusuri trek gn Bubud yang telah direcanakan jauh2 hari.

Perjalanan dimulai dari kediaman Om Budi di rempoa yang juga sebagai fasilitator transportasi dan konsumsi sarapan pagi. Tepat jam 6 pagi satu persatu mulai berdatangan dan kita awali dengan menaikan sepeda ke atas kijang pick up yang telah disediakan, juga nasi uduk dan lontong telah menanti kedatangan teman2 KOMSEP, sehingga sekitar jam 6:30 baru kita take off dari rempoa menuju Sawangan Arco, tempat markas Sacycs berada. Di sana kita telah disambut hangat oleh Anggota Sacycs yang kalo ga salah diketuai oleh Om Herling Wenas. Waktu 15 menit cukup kita gunakan untuk saling berkenalan dan menyiapkan sepeda tuk siap digowes.


Gowes dimulai dari pelataran GOR Arco tempat kita parkir mobil sementara kita genjoet. Tidak banyak jalan aspal yang kita lalui kita sudah disuguhgan jalan tanah berlumut yang licin, cukup teknikal, up and down, hingga single track menembus alang alang yang tingginya melebihi kepala kita.
Sesampainya di Pos 1 kita bertemu dengan
rombongan lain yang dipandu oleh om Jimmy B-Bike, karena banyak nya goweser dan mayoritas ingin merasakan segarnya teh manis sehingga merepotkan pemilik warung dan akibatnya kita sendirilah yang harus membuat the manis tersebut dengan adonan semau kita.



Lepas dari pos 1 rombongan menuju gunung Bubud menjadi berlipat ganda mirip dengan karnaval sepeda hias 17 agustusan, sehingga jalur single trek ibarat sholat berjamaah kalo yang di depan nuntun ya makmum mesti nuntun juga. Tapi kita memisahkan diri setelah mencapai awal perkebunan kelapa sawit dengan jalan berbatu mirip dengan jalan di kompelex ABRI waktu ga SD dulu, (sekarang dah pada di hotmix ). Kita rombongan kecil yang dipimpin oleh Om Herling Wenas melepaskan diri dari rombongan besar masuk ke daerah perkampungan dan disambut oleh beberapa warga setempat dan dengan sukarela menyediakan 2 ketel air teh dan air putih.
Menuju pos terakhir salah satu anggota kita sedikit mendapat masalah di sekitar RD nya. (secara teknik gwa sendiri kurang jelas masalahnya) sehingga kita butuh waktu tuk memperbaiki yang di Bantu teman dari Sacycs. Beberapa dari kita ada yang masih menyimpan perbekalan nasi uduk dan lontong sehingga ada waktu juga tuk menyantapnya.setelah seleai perjalanan menuju perbukitan Gn Bubud yang hanya beranggotakan 8 Orang dari KOMSEP dan 2 Orang dari Sacycs (Om Ridwan dan Om Didin yang kebetulan jga belum pernah naik sampai ke Bubud).

Mulailah dengan trek yang ditunggu tunggu yaitu tanjakan yang sepertinya tiada akhir tuk mencapai puncak, dan ketika kita sampai di puncak perbukitan ternyata yang kita jelajahi adalah Gunung Mas dan setelah kita bertanya dengan penduduk setempat kita putuskan tuk naik lagi ke perbukitan selanjutnya yang diyakini Gn Bubut, dengan nafas yang tersisa kita nikmati lagi tanjakan yang melelahkan sampai akhirnya menemui persimpangan setelah berdiskusi sejenak kita putus kan tuk mengambil jalan yang menurun dengan anggapan Bonus setelah sekian lama nanjak. Ditengan kebingungan kita tuk mengambil arah setiap bertemu persimpangan, dengan segala keberuntunga kita bertemu dengan pedagang Bakso dan tanpa dikomando lantas kita stop dan memesan secara bergantian. Kenapa musti bergantian? soalnya mangkoknya cuman sedikit, gak sebanding dgn jumlah anggota Komsep, apalagi waktu itu lagi kalap2 karena abis genjot, jadi 1 orang sih pengennya 2 ato 3 mangkok, cuman karena mangkok yg terbatas jadi musti cepet2 makan deh, supaya mangkoknya bisa dipake oleh anggota Komsep yg lain.

Setelah rehat sejenak baru ada titik terang kemana kita harus melanjutkan perjalanan setelah mendapat arahan dari si tukang bakso (hebat jga tuh tukang bakso berjualan ditempat yang jauh dari mana2, jgn2 bukan tk bakso beneran... hiiiiiiii).


Menemukan jalan aspal ibaran mendapatkan durian runtuh nih ada kutipan komentar Om Aan “diperjalan pulang, ketemu jalan aspal, berasa di sorga. Semua memacu sepedanya dg kencang pake gigi 3 - 7,8,9
Juga di waktu itu aku menemukan nikmatnya rasa Coca Cola dingin..hmmm...segeerrr..
Nyesel memang tuk nggak ngalamin..he he.. Apalagi kemaren itu kita ketemuan group B-Bike di pos satu, sehingga gerombolan yg menuju gunung banyak banget, kek karnaval..dan.... my old marin tidak malu-maluin, bisa ngikutin performance anak cucunya..ha ha ha..”


Sesampainya di B-Bike kita pamitan dengan rombongan Sacycs yang telah menemani kita menembpuh perjalanan yang sangat melelahkan sekaligus mengasyikan ini dan yang yang pasti ga akan pernah kita lupakan tuk bekal cerita anak cucuk kita.

Seperti biasa Perjalan KOMSEP diakhiri dengan wisata kuliner demi meluruskan otot yang pating merengkel yang kali ini di kedai Bebek bakar yang pemiliknya notabenanya masih kerabat dekat.

Terima Kasih yang sebesar2nya tuk Group Sasycs yang telah memandu kita bersepeda fun bike menelusuri jalan kampong dan daerah perbukitan. Terutama Tuk Om Herling Wenas, Om Ridwan Om Didin dan Om Hans ( mudah2an ga salah nyebut nama ).